Tuesday, May 25, 2004

PAK TUA



Jalan tertatih menapaki hidup penuh kerikil

Pundak kian ringkih menahan beban derita

Raga melemah rentan lewati detik demi detik

Nafas memburu seiring memendeknya jatah usia

Sinar mata meredup di tengah pancaran surya



Mungkin ia tak merasa semua yang kuduga

Tak pernah peduli desah gelisah sekitarnya

Ia terus berjalan tanpa pernah tahu sakit yang kurasa

Pun tak peduli debaran di dada menahan luka masa lalu



Wajah penuh tanda kehidupan belum hilang dari ingatanku...

Setiap hari

Sosok yang selalu kurindu dalam tangis

Hadir dalam kelamnya masa laluku... Nyata!



Setidaknya... Kekeringan oase jiwaku terobati....



Dedicated: My beloved Father



Thanks to: The old man who always walks in front of me everyday...

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah meninggalkan jejak di sini. Segala komentar yang tidak berhubungan dengan artikel, tidak akan dipublikasikan.

Salam hangat ;)